UNIMUTU dan Harapan Baru Pembangunan SDM Teluk Bintuni

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 141

“Dari Kampus UNIMUTU di Bintuni, Menyiapkan Generasi untuk Papua”

BINTUNI, inspirasipapua.id — Kehadiran Universitas Muhammadiyah Teluk Bintuni (UNIMUTU) tidak sekadar menambah pilihan perguruan tinggi di Papua Barat. Bagi masyarakat Teluk Bintuni, kampus ini membawa harapan yang lebih besar: menghadirkan akses pendidikan tinggi di daerah sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang kelak dapat kembali membangun daerahnya.

Harapan itu terlihat dalam Masa Ta’aruf Mahasiswa (MASTAMA) Tahun Akademik 2026/2027. Ratusan mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan kampus, tetapi juga dibekali pengetahuan tentang kesehatan fisik dan mental, kemasyarakatan, integritas, pencegahan narkoba, anti-kekerasan, kehidupan berasrama, hingga nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Rektor UNIMUTU, Tri Wahyuni, S.Pd., M.Pd., mengatakan pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan mahasiswa yang mampu menyelesaikan perkuliahan dan memperoleh ijazah. Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki tanggung jawab membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, memiliki keterampilan, serta mampu memberi manfaat bagi masyarakat.

“Menjadi mahasiswa itu tidak hanya sekadar datang ke kampus kemudian pulang ke kos. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan selama menjadi mahasiswa, termasuk pendidikan di luar lingkungan kampus, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk masuk dunia kerja,” kata Tri Wahyuni saat diwawancarai, Sabtu (19/9/2026).

Kampus yang Mendekatkan Pendidikan kepada Anak Daerah

Bagi Teluk Bintuni, keberadaan perguruan tinggi memiliki arti penting. Anak-anak daerah tidak selalu harus meninggalkan kampung halaman untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Mereka kini memiliki pilihan untuk belajar lebih dekat dengan keluarga, lingkungan sosial dan daerah yang kelak membutuhkan kontribusi mereka.

Mahasiswa UNIMUTU pun datang dari berbagai daerah. Tidak hanya Teluk Bintuni, tetapi juga Teluk Wondama, Kaimana, Sorong, Seram hingga daerah di luar Papua. Bahkan, terdapat mahasiswa yang sebelumnya menempuh pendidikan hingga Kalimantan, kemudian memilih kembali ke Bintuni untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

“UNIMUTU adalah kampus yang ramah bagi anak-anak dari berbagai suku yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni. Ada juga mahasiswa dari Wondama, Kaimana, Sorong, Seram, bahkan ada yang dari Kalimantan dan kembali untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Teluk Bintuni,” ujarnya.

Keberagaman tersebut menjadi modal sosial bagi kampus untuk membangun ruang belajar yang tidak hanya mempertemukan mahasiswa dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan berbagai latar belakang budaya dan pengalaman.

Dalam konteks pembangunan Papua, pendidikan semacam ini penting karena pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan investasi ekonomi. Daerah juga membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter dan kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka berasal.

Kepercayaan Masyarakat Menjadi Modal

Kepercayaan masyarakat terhadap UNIMUTU juga tercermin dari jumlah mahasiswa yang memilih menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Tri Wahyuni menyebut, pada awal berdirinya UNIMUTU menerima 528 mahasiswa. Pada tahun akademik berikutnya, jumlah mahasiswa baru kembali mencapai lebih dari 400 orang.

Bagi perguruan tinggi yang masih relatif muda, angka tersebut menurutnya menjadi modal kepercayaan yang harus dijaga melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pendampingan mahasiswa.

“528 mahasiswa itu bukan angka yang kecil bagi perguruan tinggi yang baru berdiri. Kemudian pada tahun kedua sudah 400 lebih. Ini merupakan modal kepercayaan yang harus tetap kami jaga dengan baik, baik kepercayaan masyarakat maupun pemerintah daerah,” katanya.

Kepercayaan itu sekaligus menjadi tanggung jawab. Kampus dituntut tidak hanya menerima mahasiswa, tetapi memastikan mereka memperoleh proses pendidikan yang baik hingga mampu menyelesaikan studinya.

Karena itu, UNIMUTU berupaya memberikan ruang kepada mahasiswa untuk mengembangkan potensi di luar ruang kuliah. Dalam rangkaian MASTAMA, misalnya, mahasiswa baru diberi kesempatan tampil sebagai pembawa acara dan terlibat dalam berbagai kegiatan. Dari sana, kampus mulai melihat potensi mahasiswa dalam bidang jurnalistik, kepemimpinan, seni, Tapak Suci dan keterampilan lainnya.

Dari Bintuni untuk Papua

Tri Wahyuni berharap keberadaan UNIMUTU bersama dukungan pemerintah daerah dapat ikut mendorong Teluk Bintuni berkembang sebagai salah satu tujuan pendidikan di Papua.

Menurutnya, perguruan tinggi harus menjadi bagian dari ekosistem pembangunan daerah. Ilmu yang diperoleh mahasiswa tidak seharusnya berhenti di ruang kelas atau setelah wisuda, tetapi dapat dibawa kembali ke kampung, masyarakat, dunia kerja dan pemerintahan.

“Kami bersama pemerintah daerah ingin menciptakan pendidikan yang baik dan bermutu sehingga Teluk Bintuni bisa menjadi kota pendidikan dan menjadi tujuan utama pendidikan bagi anak-anak kita,” ujarnya.

Harapan itu memiliki makna lebih luas bagi Papua. Ketika semakin banyak anak daerah memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi di tanahnya sendiri, semakin terbuka pula peluang lahirnya generasi yang memahami persoalan daerah dari dekat.

Mereka bukan hanya dipersiapkan menjadi tenaga kerja, tetapi juga calon pemimpin, pelaku usaha, pendidik, jurnalis, tenaga profesional dan penggerak masyarakat.

Ilmu yang Kembali ke Kampung

Bagi Tri Wahyuni, ukuran keberhasilan pendidikan pada akhirnya bukan hanya gelar akademik. Lulusan UNIMUTU diharapkan memiliki ilmu sekaligus adab, tetap menghargai adat istiadat dan tidak melupakan daerah asal.

“Kami ingin lulusan UNIMUTU berkualitas, tetapi juga beradab dan memiliki adat istiadat. Ilmu yang diberikan harus mereka manfaatkan untuk masyarakat, dunia kerja dan dunia pendidikan,” katanya.

Pesan tersebut menjadi penting bagi mahasiswa yang datang dari berbagai kampung di Teluk Bintuni dan daerah lain di Papua. Pendidikan tinggi diharapkan tidak membuat mereka semakin jauh dari masyarakat, tetapi justru memberi kemampuan untuk melihat persoalan di sekitarnya dan ikut mencari jalan keluarnya.

Karena itu, tantangan seperti keterbatasan transportasi, fasilitas perkuliahan maupun kepemilikan perangkat belajar seperti laptop masih menjadi pekerjaan yang perlu dijawab bersama. UNIMUTU sendiri mengakui sejumlah fasilitas masih terus dikembangkan.

Di tengah keterbatasan itu, semangat mahasiswa untuk tetap datang ke kampus menjadi gambaran bahwa akses pendidikan tidak hanya soal gedung dan fasilitas. Ada kemauan anak-anak muda untuk belajar dan mengubah masa depan melalui pendidikan.

Pada titik inilah kehadiran UNIMUTU memperoleh makna yang lebih luas: bukan sekadar sebuah kampus baru di Teluk Bintuni, melainkan salah satu ruang untuk menyiapkan manusia Papua agar memiliki ilmu, keterampilan, karakter dan keberanian untuk kembali memberi manfaat bagi daerah.

“Masa depan kalian masih panjang. Yang menentukan masa depan kalian adalah diri kalian sendiri. Ketika kalian ingin berhasil, lakukan yang terbaik dengan usaha semaksimal mungkin,” pungkas Tri Wahyuni.

**(Tim/red/muris/inspirasipapua.id)**

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *